Laman

Selasa, 26 Februari 2013

7 Masjid Terindah di Indonesia


1. MASJID ISTIQLAL

Masjid Istiqlal, Jakarta (Foto: Wikipedia)
Masjid Istiqlal adalah masjid negara Republik Indonesia yang terletak di pusat ibukota Jakarta. Masjid Istiqlal merupakan masjid terbesar di Asia Tenggara.
Masjid Istiqlal mulai dibangun pada 24 Agustus 1951, diprakarsai oleh Presiden Indonesia ketika itu, Bung Karno. Uniknya, arsitek Masjid Istiqlal bukanlah seorang muslim, melainkan seorang Kristen Protestan bernama Frederich Silaban.

Masjid ini memiliki gaya arsitektur modern dengan dinding dan lantai berlapis marmer, dihiasi ornamen geometrik dari baja antikarat. Bangunan utama masjid dimahkotai satu kubah besar berdiameter 45 meter yang ditopang 12 tiang besar. Menara tunggal setinggi total 96,66 meter menjulang di sudut selatan selasar masjid.
Lokasi kompleks masjid ini berada di bekas Taman Wilhelmina, di timur laut lapangan Medan Merdeka yang ditengahnya berdiri Monumen Nasional (Monas). Di seberang timur masjid ini berdiri Gereja Katedral Jakarta. Ini menunjukkan toleransi antar umat beragama yang tinggi.

2. MASJID DIAN AL-MAHRI

Masjid Dian Al Mahri dikenal juga dengan nama Masjid Kubah Emas adalah sebuah masjid yang dibangun di tepi jalan Raya Meruyung, Limo, Depok.
Selain menjadi tempat ibadah salat bagi umat muslim sehari-hari, kompleks masjid ini juga menjadi kawasan wisata keluarga dan menarik perhatian banyak orang karena kubah-kubahnya yang dibuat dari emas.
Pembangunan masjid yang kini menjadi salah satu landmark Indonesia di mata dunia ini diprakarsai oleh pasangan Hj. Dian Juriah M. Alrasjid dan Drs. H. Maimun Alrasjid, dengan arsitek Uke G. Setiawan. Masjid ini mulai dibangun sejak tahun 2001 dan selesai sekitar akhir tahun 2006.

3. MASJID RAYA BAITURRAHMAN

Masjid Raya Baiturrahman, Nanggroe Aceh Darussalam (Foto: Duniamasjid)
Masjid Raya Baiturrahman adalah sebuah masjid yang berada di pusat Kota Banda Aceh. Masjid ini dahulunya merupakan masjid Kesultanan Aceh.
Sewaktu Belanda menyerang kota Banda Aceh pada tahun 1873, masjid ini dibakar habis.  Kemudian pada tahun 1875, Belanda membangun kembali sebuah masjid sebagai penggantinya.
Mesjid ini berkubah tunggal dan dapat diselesaikan pada tanggal 27 Desember 1883. Selanjutnya Mesjid ini diperluas menjadi 3 kubah pada tahun 1935. Terakhir diperluas lagi menjadi 5 kubah (1959-1968).
Masjid yang didesain oleh arsitek Italia ini juga bertahan dari salah satu bencana terbesar Indonesia, bencana tsunami 26 Desember 2004. Saat gelombang tsunami meluluhlantakkan Kota Banda Aceh, masjid ini justru tetap berdiri dengan kokohnya.

4. MASJID RAYA BAYUR

Masjid Raya Bayur adalah salah satu masjid di Sumatera Barat yang terletak di Nagari Bayur, kecamatan Tanjung Raya, kabupaten Agam. Letak masjid yang dibangun pada awal abad ke-20 ini tidak begitu jauh dari jalan raya yang menghubungkan Lubuk Basung (Ibu kota kabupaten Agam) dengan kota Bukittinggi.
Arsitektur masjid ini memadukan bentuk pagoda yang ada di Thailand dan bentuk atapgonjong yang ada pada rumah adat Minangkabau (Rumah Gadang).
Perpaduan tersebut dapat dilihat pada menara kecil yang terletak pada empat sudut atap bangunan utama. Sementara struktur atap dirancang mengikuti pola bangunan rumah panggung dengan atap bersusun tiga.

5. MASJID ISLAMIC CENTER SAMARINDA

Masjid Islamic Center Samarinda adalah masjid yang terletak di kelurahan Teluk Lerong Ulu, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia, yang merupakan masjid termegah dan terbesar kedua di Asia Tenggara setelah Masjid Istiqlal.
Bangunan masjid ini memiliki sebanyak 7 menara dimana menara utama setinggi 99 meter yang bermakna asmaul husna atau nama-nama Allah yang jumlahnya 99. Menara utama itu terdiri atas bangunan 15 lantai masing-masing lantai setinggi rata-rata 6 meter.
Sementara itu, anak tangga dari lantai dasar menuju lantai utama masjid jumlahnya sebanyak 33 anak tangga. Jumlah ini sengaja disamakan dengan sepertiga jumlah biji tasbih.
Selain menara utama, bangunan ini juga memiliki 6 menara di bagian sisi masjid. Masing-masing 4 di setiap sudut masjid setinggi 70 meter dan 2 menara di bagian pintu gerbang setinggi 57 meter. Enam menara ini juga bermakna sebagai 6 rukun iman.

6. MASJID AGUNG BREBES

Masjid Agung Brebes, Jawa Tengah (Foto: youngkamikaze.wordpress)
Masjid Agung Brebes merupakan masjid terbesar di kota yang berada di Jawa Tengah ini.  Masjid ini dibangun tahun 1836 pada zaman Bupati Raden Adipati Arya Singasari Pranatayuda I.
Bentuk masjid yang ada saat ini telah direnovasi beberapa kali, antara lain pada 1933, 1979, dan 2007. Namun, rangkaian renovasi itu tetap memertahankan bangunan asli yang bergaya arsitektur Jawa kuno dengan kubah berbentuk limas. Usaha memertahankan bentuk asli ini juga karena bangunan masjid telah menjadi cagar budaya.
Gaya arsitektur Masjid Agung ini merupakan kombinasi antara gaya arsitektur Masjid Persia dan lokal Brebes. Bahan material granit untuk pintu masuk didatangkan khusus dari Italia. Sementara itu, lantai dan lapisan pilar menggunakan marmer dari Makassar dan Tulungagung.

7. MASJID RAYA MAKASSAR

Masjid Raya Makassar merupakan sebuah masjid yang terletak di Makassar, Indonesia. Masjid ini dibangun pada tahun 1948 dan selesai pada tahun 1949. Masjid ini mengalami renovasi dari tahun 1999 hingga tahun 2005. Pertama kali dirancang oleh arsitek Muhammad Soebardjo setelah memenangi sayembara yang digelar panitia pembangunan masjid raya. Masjid ini dapat menampung hingga 10.000 jamaah.
Mesjid dua lantai di Jl. Bulusaraung ini menggunakan bahan bangunan sekitar 80 persen dari bahan baku lokal, memiliki dua menara setinggi 66,66 meter, daya tampung 10.000 jamaah dan fasilitas berupa perpustakaan, kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan.
Masjid raya kebanggaan muslim Makassar ini menjadi tempat dilaksanakannya untuk pertama kali perhelatan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) pada tahun pada 1955 silam. Presiden pertama RI, Ir. Soekarno pernah singgah dan melaksanakan sholat Jumat di masjid ini di tahun 1957. Sedangkan mantan Presiden Soeharto juga berkunjung dan sholat Jumat di masjid perjuangan ini pada tahun 1967.


sumber: zulrafliadityaofficialblog.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar